Bagian kedua dari film Trilogy Apu, Aparajito (Yang tak Terkalahkan), diangkat dari novel yang berjudul sama, karya satrawan Bengali (India) yang sangat terkenal: Bibhutibhushan Bandopadhyay.
Seluruh dunia yang menonton cerita tentang kehidupan Apu di layar perak (Pather Panchali (Tembang Sepanjang Jalan), Aparajito dan Apur Sansar (Dunianya Apu)), merupakan buah karya sineas nomor satu India: Satyajit Ray, dan karya sineas ini, sungguh membuat orang India bangga karenanya.
Penceritaan yang luar biasa di dalam novel-novel Bibhutibhushan Bandopadhyay membuat Satyajit Ray tidak membuat perubahan besar di dalam filmnya, dan hanya mengikuti alur cerita pokoknya, tepat seperti yang telah digambarkan oleh Bibhutibhushan Bandopadhyay.
Melihat dari sisi novel, ciri Bibhutibhushan Bandopadhyay bercerita adalah kesederhanaan bahasanya dan ketulusan perasaannya, di sini kita melihat, kata-kata dalam novel-novelnya mengalir begitu saja, dengan daya sekuat air terjun dari sebuah gunung. Kata-kata itu sederhana, tetapi sekaligus rumit. Sebagian berupa puisi murni, yang ritmis dan liris. Kadang-kadang bahkan retoris. Di bagian lain ia menggunakan ungkapan sehari-hari yang sangat biasa. Lirik dalam bahasanya adalah yang seindah-indahnya ketika ia menggambarkan alam. Dan di manapun ia menempatkan protagonisnya, di situ filsafat pemikiran selalu mendasarinya. Bibhutibhushan Bandopadhyay memiliki wawasan yang sangat peka, juga kesadaran yang mendalam tentang ‘keluarbiasaan’ yang tersembunyi di balik segala hal yang biasa, di belakang segala hal yang ada di sekelilingnya, sehingga membaca novel-novelnya ini, pembaca akan sangat terpesona.
Perjuangan untuk terus hidup dan kerinduan untuk kembali kepada akarnya, inilah dua ciri utama Aparajito. Desa Nischindipur yang damai dan teramat tenang, tempat Apu dan Durga dibesarkan (diceritakan dalam Pater Pancali), telah hilang untuk selama-lamanya, tetapi hasratnya untuk kembali ke sana terus bertahan. Bagi Apu, perjalanan ini masih terus berlanjut, tetapi Durga (kakak perempuannya yang meninggal di usia yang sangat muda), rumah dan desa Nischindipur kini sudah silam.
Saat novelis di negara-negara barat mengajarkan kepada kita tentang kekerasan, intrik, seks, keterasingan, dan masalah-masalah psikologis, Bibhutibhushan Bandopadhyay mengajarkan kepada kita tentang dasar-dasar hidup manusia dan masyarakat.
Refleksi dari bacaannya yang luas tergambar dengan sangat jelas di dalam karya-karyanya ini. Dalam Aparajito pula, ia memperingatkan kita agar mewaspadai penebangan hutan secara sembarangan yang menimbulkan bencana lingkungan 75 tahun yang lalu, ketika hampir tak seorang pun sadar atau menaruh perhatian terhadap masalah polusi. Bibhutibhushan Bandopadhyay tidak hanya seorang pemuja alam, melainkan juga pelopor pelestarian lingkungan. Ia ingin menyelamatkan apa yang ia cintai.
Inilah alasan yang mendasari rangkaian pemutaran film kali ini, di saat kita begitu sibuk dengan aktivitas di sekeliling kita, suasana yang begitu riuh dan tergesa-gesa, ada sesuatu yang hilang dari kita; kenapa selama ini kita praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, namun memberi getar pada hidup dengan tanpa bicara.
Tidakkah itu semua adalah sederet rahmat, anugerah Tuhan, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi...
Di saat kita begitu haus dengan buku-buku tentang pengembangan diri, persaingan hidup, dan segala macam yang memacu adrenalin kita, saya ingin mengajak rekan berbicara tentang burung dan angin, saya ingin menerima apa saja yang wajar di sekitar kita, saya ingin hati dan pikiran yang merdeka, agar bisa tulus.
Mari kita kembali sejenak pada suatu karya yang menggetarkan jiwa kita, yang memperhalus perasaan yang ada di dalam hati kita, menikmati sastra, untuk kembali kepada nilai kemanusiaan yang paling esensial.***
Jumat, 19 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)